Popular Post

Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Apa ya?

By : Fauziah Cahyani




Uhuk! Check! 1 2 3..

Ehem..

Hm…

…

…

…

Hai..





Lama banget ya aku gak bikin postingan. Saking lamanya, sampe kaku gini mau nulis ngetik apaan.

Jadi kemaren-kemaren itu gue sibuk banget sama kegiatan perkuliahan. Sibuk bikin proposal magang, UAS, persiapan KKN, dan hal-hal lain yang ngeribetin.

Tapi sebagai blogger amatir, mau gak mau gue harus konsisten buat (paling enggak) sebulan sekali bikin postingan di blog. Dan kalian tau apa? Ini udah di penghujung bulan Agustus dan belum ada postingan sama sekali. Yah mungkin ini bakal jadi postingan satu-staunya selama bulan Agustus 2013 heuheu.

Hmm enaknya cerita apa ya kali ini?

Oh ya! Ngomong-ngomong, ini udah hari keempat gue KKN loh. Tapi gue gak mau cerita sekarang haha nanti aja deh seminggu sekali (insya Allah) gue posting di sini. Ingetin yak :p

Jadi hari ini cerita apa dong?

Gue mau ngeluh aja deh hari ini. Boleh kan? Boleh dong..

Gak berasa sekarang gue udah masuk semester tujuh. TUJUH! Gila semester tua -___- di semester ini cuma ada dua mata kuliah. Kuliah Kerja Nyata (KKN) sama Praktek Profesi atau magang. Sekarang KKN udah mulai dan bakal berjalan selama lebih kurang satu bulan. Habis itu lanjut di bulan Oktober, gue harus mulai magang. Nggak harus juga sih. Maksudnya bisa mulai November atau bahkan Desember, yang jelas waktu yang dikasih buat kesempatan magang cuma mulai dari bulan Oktober sampai Desember.

Gue sendiri belum dapet tempat buat magang. Udah ngajuin di salah satu media online gitu tapi belum ada tindak lanjut (?)

Jadi sekarang lo bingung tempat magang, Zi?

Nggak juga sih haha. Belum maksudnya :p mungkin nanti kelabakannya kalo udah mepet-mepet. Astaghfirullah jangan sampe deh gue jadi deadliners lagi -___- masalahnya ini magang. Nggak bisa mepet-mepet waktunya. Kecuali kalo gue mau magang di tempat nenek moyang gue xD

Selain magang, gue juga ada masalah nih sama sjgdtfsbdskripsijghfefrv.

-_____________________________________________________________-

Gue bingung itu sjgdtfsbdskripsijghfefrv mau gue selesaiin semester ini apa enggak. I’m too busy with KKN and Magang, ya know? << sok inggris beud~ Ngomong-ngomong tentang “sok inggris”, sekarang, gue kalo lagi fangirling di Twitter suka pake bahasa inggris padahal grammar naudzubillah kacaunya xD Hmm apa ya? Bukannya sok-sokan sih, tapi lebih enak aja gitu :p

Oooo balik lagi ke sjgdtfsbdskripsijghfefrv. Jadi yaa gitu deh.. gue bingung mau diselesaiin semester ini apa enggak. Soalnya mesti ngulang dari BAB I walaupun proposal gue udah selesai dan udah ada nilainya tapi……………………………..susah nih ngomong ngetiknya.

Ya gitu deh ya pokoknya. Hahahaha..

See ya hari minggu! Kalo gue inget dan sempet buat posting :D 

Minggu Sibuk

By : Fauziah Cahyani


Minggu sibuk. Sangat sibuk. Sejak 22 April 2013 hingga 26 April 2013, seluruh mahasiswa Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS). Entah memang benar sibuk atau hanya perasaanku saja. Maksudku, aku melihat mereka sibuk. Apalagi kakak-kakak seniorku yang tengah mengurus proposal skripsi untuk disidangkan Selasa (30/04) nanti.

Bolak-balik menghadap dosen pembimbing masing-masing dengan membawa draft yang sudah mengalami revisi berkali-kali. Bolak-balik ke perpustakaan untuk meminjam buku. Bolak-balik menghampiri mas Arya, salah satu staf FKSB (Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa), hanya untuk menge-print beberapa lembar kertas. Bolak-balik ke DALA untuk mengurus pembayaran. Dan masih banyak bolak-balik yang lain.

Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku juga sama seperti mereka? Mengurus skripsi. Benar, aku yang masih semester enam sudah mengambil mata kuliah Seminar dan Skripsi bersama dua teman seangkatanku, Jessi dan Dela. Jangan tanya mengapa. Mungkin sekarang kami bingung harus menjawab apa.

Dibandingkan yang lain, aku adalah yang paling jarang bertemu dosen pembimbing untuk membahas proposal skripsi. Ada saja yang menghalanginya. Mulai dari liputan untuk majalah kampus sampai rasa malas.

Proposal skripsi yang berisi BAB I, BAB II, dan BAB III itu harus dikumpulkan paling lambat Jumat (26/04) di sekretariat FKSB.

Hari itu, Kamis, 25 April 2013..
Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi melaksanakan UTS terakhir karena Jumat sudah tidak ada mata kuliah yang diujikan. Ujian pertama yaitu mata kuliah Jurnalistik Sastra pukul 7.30. Kami sudah mengetahui sifat ujiannya Take Home tapi kami harus tetap masuk pagi untuk mengambil soal ujian.

Karena terburu-buru, aku sampai melupakan jaket almamaterku. Aku masih beruntung karena ujian pertama tidak dilaksanakan di kelas. Jaket almamater adalah salah satu barang yang harus dibawa dan digunakan saat ujian berlangsung. Kalau tidak memakainya, kau harus meminta surat pernyataan tidak membawa jaket almamater dari pihak DALA. Dan itu sangat merepotkan.

Aku bisa selamat di ujian pertama. Tapi tidak di ujian kedua, mata kuliah Jurnalistik Investigasi. Awalnya aku lupa kalau ada ujian lagi. Aku fikir setelah Jurnalistik Sastra, tidak ada ujian lagi.

Pukul 10.00 ujian Jurnalistik Investigasi dimulai. Aku yang tidak mau repot mengurus surat pernyataan ke pihak DALA berusaha meminjam jaket almamater dari teman.

“Lili pinjem almet dong.” Pintaku pada salah satu teman.

“Yah udah dipinjem bang Agung, beb.” –Beb adalah sebutan akrab bagi kami di angkatan 2010.

“Bang Agung ujian jam berapa? Pinjem almet dong.” Aku bertanya pada seniorku yang memakai kacamata itu.

“Sekarang, Ziah..” jawabnya.

“Yaaahh..” aku kecewa.

Saat itu suasana laboratorium Ilmu Komunikasi sangat sepi. Ah, benar. Mereka semua sedang ujian juga. Tidak ada yang bisa aku pinjami lagi. Akhirnya tanpa jaket almamater, aku pun pergi menuju ruang ujian bersama empat temanku yang lain. Jessi, Anggi, Christin, dan Adit. Sementara Supri sudah berada di ruang ujian.

Lima menit pertama aku masih aman sampai pak Zul, dosen Jurnalistik Investigasi, bertanya pada Adit.

“Dit, mana jaketmu?” 

“Oh, ada pak.” Jawab Adit sembari mengambil jaket almamaternya dari dalam tas lalu memakainya.

“Fauzi mana?” kini pak Zul bertanya padaku.

“Oh? Nggak bawa, pak. Ketinggalan..” jawabku sambil senyam-senyum tak jelas.

“Lah gimana? Harus pakai surat ya?” Tanya pak Zul entah kepada siapa.

“Tadi ujian pertama gimana?” sekarang ibu pengawas yang bertanya.

“Take home, bu.” Jawabku.

“Ujian kedua?” tanyanya lagi.

“Ini, bu.” Jawabku singkat.

“Yaudah ke sana (DALA) dulu ya minta surat.”

Huft, aku pun menghela nafas.

“Ayo Fauzi cepet.” Pak Zul menimpali.

Aku pun keluar ruangan meninggalkan lembar jawaban yang sudah aku isi mungkin sekitar lima atau enam baris.

Jarak ruang ujian yang berada di H103 menurtku lumayan jauh dengan gedung rektorat, tempat DALA berada. Sekitar lima sampai sepuluh menit waktu berhargaku untuk mengerjakan ujian terbuang. Memang salahku sendiri. Untunglah aku dapat menyelesaikan semua soal yang ada.

Karena keesokan hari adalah deadline pengumpulan proposal skripsi, usai ujian aku pun pulang cepat untuk mengerjakannya di kontrakan. Sungguh tidak konsentrasi jika mengerjakan di kampus.

Sesampainya di kontrakanku yang berada di Kampung Utan – Cibitung, aku pun berniat langsung mengerjakan proposal skripsiku. Tapi, aku terlebih dahulu mengecek ponselku. Awalnya hanya ingin melihat lini masa di beberapa situs jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, tapi tumben sekali koneksi internet sangat cepat sehingga aku beralih melihat-lihat video KPOP (Korean POP) di situs Youtube. Aku semakin betah dengan ponselku dan mulai malas mengerjakan skripsi.

Sekitar pukul delapan malam, aku baru bisa benar-benar mengerjakan skripsiku. Dengan bermodal buku-buku yang aku pinjam di laboratorium dan koneksi internet, aku mengerjakan BAB II dan BAB III yang belum selesai aku garap.

Sampai tengah malam, proposal skripsiku belum rampung juga. Untuk menghilangkan rasa kantuk, aku membuat secangkir kopi susu. Sementara kakakku sudah tertidur dengan lelap. Ya, aku tinggal di kontrakan tiga petak ini hanya berdua dengan kakak perempuanku.

Sesekali aku memainkan game yang ada di ponselku kalau sudah sangat penat dan pusing dengan layar laptop.

Tiba-tiba saja kakakku terbangun dan berucap dengan suaranya yang masih terdengar mengantuk.

“Kamu nggak tidur, yah?”

Aku hanya menggeleng untuk menjawabnya. Mungkin saat itu pukul tiga pagi. Aku tidak begitu mengingatnya.

Hingga pagi datang, aku sama sekali belum memejamkan mataku. Proposal skripsiku belum selesai. Sampai kakakku sudah berangkat bekerja dan matahari semakin meninggi, proposal skripsiku masih belum selesai.

Dengan perjuangan yang sangat keras, akhirnya selesai juga sekitar pukul 12 siang.

Pukul 13.00 aku sudah meninggalkan kontrakan menuju kampus untuk menyerakan proposal skripsi ini terlebih dahulu kepada dosen pembimbingku.

Aku sudah tidak peduli dengan tampangku yang sangat tidak karuan. Sekeliling mataku lebih hitam dibandingkan hari biasanya dan pipiku menjadi sangat tembam.

Sesampainya di laboratorium Ilmu Komunikasi, aku langsung menghampiri dosen pembimbingku yang kebetulan sedang membimbing salah satu seniorku.

“Pak Aep, saya print dulu ya pak..” ucapku ketika menghampiri dosen pembimbingku, bapak Saepudin.

“Oh? Udah? Sampe BAB III?” tanyanya bingung.

“Udah, pak.”

“Oh yaudah print aja dulu.” Ucapnya sambil tersenyum ke entah yang tak bisa aku deskripsikan.

Di dalam ruangan mas Arya, tempat aku kan menge-print, aku mendapati Dela juga sedang menge-print.

“Udah, Del?” tanyaku to the point.

“Hmm nggak tau nih. Ini mau aku kasih liat lagi ke bu Winda.” –bu Winda adalah dosen pembimbing Dela dan merupakan salah satu dosen Ilmu Komunikasi.

“Ohh… Duh, ngantuk banget Del. Nggak tidur sama sekali aku tadi malem..” aku jadi curhat kepada Dela.

“Ya ampun.. Mukamu bengep, Zi.” Jujur Dela.

Hahaha. Ingin tertawa rasanya mendengar Dela berkata seperti itu. Bengep, seperti korban kekerasan?

Setelah selesai menge-print, aku harus menunggu giliran bimbingan. Karena pak Aep sedang membimbing senior-seniorku yang lain.

Aku bersama Dela dan Jessi berada di ruang laboratorium multimedia. Aku menunggu giliran bimbingan. Jessi dan Dela mengerjakan proposal skripsi yang sudah direvisi. Di ruangan itu, kami bertiga saling mengungkapkan kesulitan dan kecemasan masing-masing.

“Eh eh jadi gimana?” Jessi yang memulai bertanya.

“Duh, aku ini paling parah. Parah banget pokoknya.” Ucap Dela

“Parahan aku, Del.” Aku menimpali.

“Aku, Zi. Kalian nggak tau ceritanya sih..” Dela tak mau kalah.

“Yaudah yaudah cerita satu-satu.” Jessi menengahi. “Kalian tau nggak sih? Tadi tuh pas bimbingan aku disuruh buat ikut sidang seminar susulan. Soalnya ini yang di-revisi masih banyak banget.” Lanjut Jessi.

Dela pun mengungkapkan masalahnya yang memang serius.

“Terus kamu, Zi?” Tanya Dela.

“Nih ya, ini tuh BAB II sama BAB III sama sekali belum diliat sama pak Aep. Jadi udah pasti banyak yang di-revisi.”

Kami pun terdiam dengan pikiran masing-masing.

~

Tiba waktunya aku berhadapan dengan dosen pembimbingku. Dan aku pun menyerahkan draft proposal aku kerjakan semalam suntuk itu.

“Ziah.. Ziah.. kamu ini kemana aja nggak pernah bimbingan?” tanyanya langsung. “Terus ini udah selesai sampai BAB III?” tanyanya lagi.

“Udah, pak.”

“Dapet berapa halaman?”

“Cuma 30an sih pak.”

“Cuma 30an?” ulangnya dengan nada bertanya yang heran.

“Iya, pak. Emang harusnya berapa pak?” tanyaku.

“Yaa nggak ada aturan harus berapa-berapanya sih. Tapi kan…” beliau menggantung kalimatnya. “Udahlah kamu ikut sidang susulan aja ya sama Arisanto? Biar kamu lebih siap.”
“Yahh tapi pak..”

“Kalo maksain kamu nanti bisa dibantai. Jangankan sama penguji lain. Saya juga bisa bantai kamu nanti.”

“Yah yaudah deh pak. Tapi itu susulannya kapan, pak?”

“Yaa belum tau. Mungkin minggu-minggu ini, bulan depan, atau mungkin tahun depan.”
“Waduhh jangan tahun depan pak.” Protesku.

~

Bukan cuma aku. Jessi pun akhirnya akan mengikuti siding susulan. Sementara Dela dan kakak-kakak seniorku yang lain akan sidang Selasa (30/04) mendatang.

Pukul lima sore suasana laboratorium ilkom masih pikuk. Yang lain sibuk mengurus berkas-berkas yang harus dikumpulkan. Bahkan ada yang masih mengerjakan revisi. Aku? Menebus tidurku yang hilang sejak malam tadi di laboratorium multimedia.



NB: Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Sebenernya ini tulisan buat UTS Jurnalistik Sastra, tapi nggak apa lah ya diposting di sini ^^

Skripsi Untuk Apa?

By : Fauziah Cahyani


Memasuki semester keenam, Aku dan dua teman satu angkatanku, Jessi dan Dela sudah memulai menulis skripsi. Nekat? Mungkin. Karena mata kuliah skripsi seharusnya diambil saat semester delapan. Lalu kenapa kami nekat mengambil mata kuliah skripsi ini? Entahlah, kami pun bingung jika ditanya kenapa. Dan pada akhirnya kami bertiga harus berjuang bersama senior yang sudah semester delapan untuk menyelesaikan skripsi masing-masing.

Sebelum memulai menulis skripsi, ada suatu mata kuliah yang harus kami ikuti, yaitu mata kuliah Seminar. Awalnya aku berfikir kalau mata kuliah ini adalah sebuah acara yang “benar-benar” seminar yang biasa aku ikuti selama ini. Yaitu sebuah kegiatan dengan tema tertentu yang menghadirkan pembicara. Namun aku keliru. Rupanya mata kuliah seminar ini tak berbeda dengan mata kuliah lainnya. Ya, intinya menyampaikan sesuatu. Yang berbeda adalah jumlah dosen yang hadir saat mata kuliah berlangsung. Dosen yang hadir bisa lebih dari dua.

Aku ingat saat pertemuan kedua mata kuliah ini. Bertempat di ruang H104, terlihat kelas sudah di mulai namun ada dua mahasiswi yang datang terlambat karena baru selesai makan siang. Mereka adalah Aku dan Dela. Ya, kelas seminar dilakukan setiap hari kamis pukul satu siang. Tanpa basa-basi, kedua mahasiswi itu langsung masuk dan mencari bangku yang kosong.

Terlihat tiga dosen dalam kelas itu, satu perempuan, dua lainnya adalah laki-laki. Ibu dosen berada di meja depan sedangkan kedua dosen laki-laki itu duduk di bangku mahasiswa deretan pertama. Tepat berada di depanku dan Dela duduk.

Sebelum Ibu dosen menyampaikan siapa yang akan dibimbing siapa, beliau terlebih dahulu memberikan wejangan kepada kami para mahasiswa yang akan memulai menulis skripsi. Segala bentuk nasihat, masukan, dan kata-kata penyemangat beliau utarakan. Setelah selesai, ibu dosen bertanya kepada kedua dosen laki-laki tadi, “Bagaimana, pak? Ada yang mau ditambahkan?”

Salah satu dosen laki-laki berpostur jangkung pun mulai memberikan hal-hal serupa yang disampaikan ibu dosen sebelumnya. Tapi ada kalimatnya yang mengusik perhatianku saat itu.

“Jadi gini ya.. Skripsi itu kan ibarat masterpiece-nya kalian. Hasil kalian selama ini kuliah. Tuh, di rumah saya masih ada loh skripsi saya. Kalo bisa sih bakal saya figura-in terus dipajang.”

Aku merasa ada yang aneh dengan kalimatnya. Lalu aku berbisik pada Dela yang berada disebelah kiriku, “Ohh skripsinya cuma buat pajangan? Manfaatnya apa dong?”
 
Dela yang mendengar itu hanya merespon, “Hust!” sambil tersenyum entah yang tak bisa aku deskripsikan. Mungkin merasakan hal yang sama denganku.

Sesaat kemudian Aku pun kembali bertanya pada Dela, “Eh Del, sebenernya skripsi tuh buat apa sih?”

Sebuah pertanyaan yang sangat polos itu begitu saja keluar dari mulutku. Namun Dela hampir tak bisa dengan tepat menjawabnya. Menggantung istilahnya. Dia hanya berkata, “Yaa itu hasil dari kita kuliah selama ini. Apa yang kita pelajari, diterapkan di skripsi itu.”

Aku tidak puas dengan jawabannya. Hanya itu kah? Apa Aku harus bertanya kepada seseorang yang sudah merasakan bagaimana menulis skripsi? Apa Aku juga harus bertanya pada Google? Memang, di dalam skripsi ada yang namanya “Manfaat dan Kegunaan Penulisan”, tapi bukan itu yang aku maksud. Aku lebih merasa kalau skripsi itu hanya syarat mutlak untuk lulus kuliah dan mendapatkan gelar. Aku berkata seperti ini mungkin karena belum merasakan manfaat skripsi itu secara langsung. Mungkin aku akan mendapatkan kepuasan jawaban setelah aku benar-benar menyelesaikannya. Ya, skripsi itu.

Perkuliahan tetap berlangsung sementara Aku masih disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Rupanya hari itu adalah hari terakhir mata kuliah Seminar yang diladakan di kelas. Untuk selanjutnya, para mahasiswa akan berurusan langsung dengan dosen pembimbing masing-masing.

Ngomong-ngomong soal pembimbing, Aku akan dibimbing oleh pak dosen jangkung itu..

- Copyright © My Precious Life - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -